Rabu, 13 Maret 2013

Spesial: Langit Jingga

Kepada biru yang selalu merona di langit..
Kepada Surya yang menjelang ke peraduan..
Jingga ingin mewarnai langit,
Bersama hingga sore menghilang.








                  Entah mengapa akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan langit jingga. Ah, langit sore mungkin awamnya. Tapi saya lebih senang menyebutnya langit jingga:)

                  Mereka memiliki ketertarikan tersendiri di mata saya. Dan saya selalu berhasil membuat puisi sambil memandang mereka. Atau saya biasanya hanya diam dan mendengarkan musik sambil menunggu rona jingga di langit benar-benar menghilang.

                  Saya menyempatkan mengabil foto mereka beberapa dari sisi yang saya sukai. Walaupun masih amatiran sih hehhe.

                  Saya benar-benar menyukai Langit Jingga.
Read More

Minggu, 10 Maret 2013

Minggu Kelabu (?)


    Ketika hujan membasahi hati yang kering
    Menelusup perlahan dan menyiksa
    Tak diharapkan, tapi dinikmati
    Sesak, tapi begitu manis jika dilewatkan

        Kau sedikit mirip dengan hari ini
        Memeluk tanpa menyisakan cahaya
        Menaungi dengan keterikatan
        Apa karena kita melihat hujan yang sama?

    Deru hujan kian mengejar
    Membawaku menyesap kerinduan akanmu
    Tetes demi tetes menyusuri raga
    Merdu, sendu, melirih

        Dan ketika hujan perlahan berhenti
        Aku melihat cahayaku di persimpangan
        Seulas senyum terbingkai rapuh
        Begitu terang dan menghangatkan

    Masihkah ini minggu kelabu?
Read More

Selasa, 05 Maret 2013

Jingga Langit Tenggara

Jingga langit Tenggara
Setelah lama tertutup awan
Engkau muncul kembali
Setelah langit selalu biru

Menghadirkan senyum
Merangkai kata
Menghadirkan kembali "mungkinkah"
Membentuk sebuah impian baru

Jingga langit Tenggara
Setelah lama tertutup awan
Engkau muncul kembali
Setelah langit selalu biru

Kini, impian itu merekah
Menghangatkan jiwa
Mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah
Menghadirkan tanya baru

Bolehkah langit mengharapkan jingga?
Seperti siang mengharapkan sore?
Selalu dan selalu?
Atau hanya bertemu di horizon sana?
Karena terhalang oleh biru yang selalu bersama langit dalam dunia dongeng?

Jingga langit Tenggara
Setelah lama tertutup awan
Engkau muncul kembali
Setelah langit selalu biru
Dan menghadirkan tanya baru
AKANKAH...


--AMALIA NENA--
3 Maret 2013
11.49 A.M.
Read More

Jumat, 01 Maret 2013

At 3 A.M.

    Aku duduk diam di dalam kamarku. Mataku masih terbuka lebar, tak bisa tidur. Ketika larut seperti ini aku selalu terbawa hawa galau. Begitu mencekam dan menyesakkan. Menyudutkanku hingga ke jurang terdalam. Aku sendirian. Meratapi diriku sendiri.
   
    Diam bukan berarti tidak memikirkan sesuatu, tapi malah sebaliknya. Diamku merupakan wujud dari pemikiran-pemikiran tentang suatu ketakutan dan lebih banyak pada penyesalan terutama masa lalu. Walaupun terkadang, diam juga berarti menhayal atau lebih tepatnya berharap akan masa depan. Pertanyaan muncul satu persatu di kepalaku. Menanyakan sesuatu yang memang harus terjawab. Tentang segala sesuatunya.
   
    Kadang aku bertanya-tanya, mengapa aku begitu sedih. Semua perasaan menyerobot dan bergegas masuk ke kepalaku membuatku ingin melarikan diri dari dunia ini.
   
    Kenangan yang seolah berputar dari awal hidupku. Menerjangku dengan kesalahan-kesalahan termanis yang pernah kubuat hingga kebahagiaan kecil yang pernah terbawa. Pikiran-pikiran gilaku akan hidup yang tak bias kujangkau keberadaannya. Dan perasaan. Perasaan yang aku pendam, atau yang sengaja kupendam, yang benar-benar ingin kuungkapkan walau dengan isyarat yang tak tersampaikan. Semuanya benar-benar menghantuiku.
   
    Pada pukul 3 dini hari. Aku tidak tidur. Aku membiarkan airmataku mengalir dan membuat bekas pulau kecil di bantalku.

Read More

© 2013 Faisyah Febyola : )

Powered by Blogger